Dibalik tradisi “Kue Keranjang” dan bagi-bagi “Angpao” di hari raya Imlek.

INSTAG-kue keranjang

Tanggal 8 Februari Kemarin, masyarakat Tionghoa di seluruh dunia akan merayakan Tahun Baru Tionghoa, atau sering juga disebut Lunar New Year di luar negeri dan Imlek di masyarakat Indonesia. Perayaan ini biasanya diramaikan dengan munculnya dekorasi serba merah, pertunjukan barongsai, bagi-bagi angpao, dan tradisi-tradisi lainnya. Kali ini kita akan membahas dua tradisi Imlek yang pasti sudah sering kalian lihat atau rayakan, yaitu tradisi membuat kue keranjang dan memberikan angpao.

kue keranjang(1)

 

Salah satu tradisi yang sangat terkenal dalam perayaan Imlek adalah disajikannya kue keranjang atau nian gao, kue yang terbuat dari tepung ketan dan gula. Nama kue keranjang berasal dari wadah cetaknya yang berbentuk keranjang, dan dalam tradisi dibuat untuk sesaji pada upacara sembahyang leluhur, yang dimulai tujuh hari sebelum Imlek dan berpuncak pada malam sebelum Imlek. Jika digunakan sebagai sesaji, kue ini baru dimakan ketika Cap Go Meh, malam kelimabelas setelah Imlek. Kue keranjang juga dipercaya sebagai hidangan untuk menyenangkan Dewa Tungku agar ia memberikan laporan baik kepada raja Surga, sementara bentuknya yang bulat dimaknai agar keluarga yang merayakan Imlek dapat tetap bersatu, rukun, dan bertekad bulat di tahun yang akan datang.

AngpaoAngpao

Angpao adalah sejumlah uang di dalam amplop merah yang diberikan kepada anak-anak atau anggota keluarga lain

Pemberian angpao adalah simbol harapan agar si penerima beruntung dan bernasib baik di tahun mendatang

Ketika seorang anak menerima angpao, maka orangtua anak itu harus memberikan angpao kepada anak si pemberi angpao

Budaya angpao berasal dari konsep membalas kebaikan dan menunjukkan keharmonisan di dalam keluarga atau ikatan kolega kerja.

Tradisi lain yang juga sudah sangat identik dengan Imlek adalah pemberian angpao, yang biasanya berbentuk sejumlah uang di dalam amplop merah. Angpao biasanya diberikan kepada anak-anak dan anggota keluarga yang belum menikah sebagai simbol harapan si penerima mendapatkan keberuntungan dan bernasib baik di tahun mendatang. Biasanya, ketika seorang anak menerima angpao, maka orangtua anak tersebut harus memberikan angpao kepada anak si pemberi angpao. Budaya angpao sendiri berasal dari konsep membalas kebaikan antar sesama dan menunjukkan keharmonisan di dalam keluarga dan ikatan kolega kerja.

Ditilik dari dua tradisi tersebut, salah satu benang merah di antara keduanya adalah pentingnya kebersamaan dan berbagi, baik di dalam lingkup keluarga, pertemanan, maupun ikatan kerja. Tentunya memiliki semangat berbagi dan kebersamaan adalah hal yang sangat penting untuk etnis maupun ras manapun, dan alangkah baiknya kita bisa tetap memiliki semangat tersebut sepanjang tahun. Dengan berbagi dan kebersamaan, dunia akan menjadi tempat yang lebih baik.

babacucu

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s